Wednesday, May 4, 2011

Awalnya Saya Belajar Al Quran untuk Serang Pendapat Teman


Saya adalah Mahasiswa pascasarjana Oxford University bidang Politik Timur Tengah yang memeluk Islam pada tahun 2003 lalu saat usiaku 21. Bagiku (Myriam Francois Cerrah), Alquran adalah puncak perenungan filosofis. Alquran pula yang kemudian mengantarkanku pada Islam.


Padahal, awalnya saya yang sarjana filsafat lulusan Universitas Cambridge membuka Alquran dengan "marah". Saya sering berdiskusi soal Tuhan dengan teman kuliah. Sang teman, menggunakan dalil ketuhanan sesuai apa yang disebutkan dalam konsep Islam. Dan saya mempelajarinya sebagai bagian dari upaya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang Muslim itu salah.

Kemudian saya mulai aktif membaca dengan pikiran yang lebih terbuka. Pembukaan Al Fatihah, dengan alamat untuk seluruh umat manusia betul betul mencengangkan saya. "Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Itulah pentingnya dia mengambil jalan lurus, jalan Tuhan,"

Dalam dunia yang diatur oleh relativisme, bagi saya hanya ada dua panduan: moral objektif dan landasan moralitas. "Sebagai seseorang yang selalu memiliki minat dalam filsafat, Alquran terasa seperti puncak dari semua renungan filosofis saya. Hal ini dikombinasikan Kant, Hume, Sartre dan Aristoteles. Entah bagaimana berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis mendalam yang diajukan selama berabad-abad tentang eksistensi manusia dan menjawab satu yang paling mendasar, "mengapa kita di sini?"

Tentang Nabi Muhammad, saya mengenalinya sebagai seorang pria yang ditugaskan dengan misi penting, seperti para pendahulunya, Musa, Isa, dan Ibrahim.

Makin lama saya belajar Alquran, makin besar keinginan saya untuk menganut agama Islam. Tujuan semula, mendebat argumentasi teman, berubah menjadi pengakuan, "Kamu benar tentang agamamu!"

Tak mau buang waktu, saya segera bersyahadat. "Beberapa teman dekat saya melakukan yang terbaik untuk mendukung saya dan memahami keputusan saya. Saya tetap sangat dekat dengan beberapa teman masa kecil saya dan melalui mereka saya mengakui universalitas pesan Ilahi, bahwa nilai-nilai Tuhan bersinar melalui perbuatan baik manusia, Muslim maupun bukan,"

Bagi saya konversi keimanana bukan sebagai 'reaksi' terhadap, atau oposisi terhadap budaya Barat. "Sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang selalu saya pikirkan," seraya mengkritik beberapa masjid di Inggris yang menutup pintu dialogtentang ketuhanan dan terlalu dogmatis. "Catat: aturan dan protokol mereka banyak yang membingungkan dan malah bikin stres."

Aku tidak segera mengidentifikasi dengan komunitas Muslim. Saya menemukan banyak hal aneh dan banyak sikap membingungkan.

Menurut pendapat saya, adalah tugas Muslim untuk membuat Islam tampil tidak sebagai agama yang asing. Dan kini, saya menjadi bagian untuk turut mengemban tugas itu. "Menjadi Muslim, tidak berarti kita kehilangan semua jejak diri kita sendiri. Islam adalah validasi yang baik dalam diri kita dan sarana untuk memperbaiki yang buruk," (republika.co.id)


http://situslakalaka.blogspot.com/2011/04/awalnya-saya-belajar-al-quran-untuk.html

Hidayah Datang Kepadanya Melalui Anak Kecil Penyemir Sepatu


Sebelumnya, Idris Tawfiq (gambar yang kiri) adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya.

Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir. Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka. Berikut pengakuan Idris tentang keputusannya memilih Islam:

Apa yang membuat Anda tertarik pada Islam?
Perkenalan saya dengan Islam datang dari seorang anak kecil di jalanan di Kairo, membersihkan sepatu dengan sandal jepit di kakinya. Dia melihat kulit putih saya dan menyapa saya dengan assalamu alaikum. Selama 40 tahun di Inggris, saya pernah melihat Muslim; saya melihat mereka di jalan-jalan, dan saya catat apa yang televisi katakan pada saya tentang Muslim yang akan memotong tangan saya atau memukuli para wanita; tapi anak kecil itu sungguh membuka jendela yang lain tentang Islam.

Setelah saya menjadi Muslim beberapa tahun kemudian, saya katakan pada audiens saya di Manchester Metropolitan University tentang anak itu. Saya memberitahu mereka bahwa pada Hari Penghakiman ia akan mendapatkan kejutan dalam hidupnya.

Apa yang Anda tangkap tentang Islam setelah itu?
Dia sangat membekas di hati saya. Apa yang saya sukai tentang Islam adalah kesederhanaannya. Sayangnya, umat Islam memperumit agama mereka, baik untuk diri mereka sendiri dan ketika menjelaskan kepada non-Muslim. Padahal, Islam dapat diringkas dalam dua pernyataan sederhana: satu, Allah itu Ada, dan dua, bahwa Allah berbicara kepada ciptaan-Nya melalui Kalamnya (Al Quran). Itu adalah Islam. Itulah pesan Islam yang ada sejak awal waktu.

Kesederhanaan Islam memastikan daya tarik universal. Islam berbicara kepada hati semua orang, di mana-mana. Tapi sebagai Muslim, kadang kita berkonsentrasi pada hal-hal sepele, hal-hal yang tidak penting ketika dunia pada umumnya adalah haus akan Allah. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang haus untuk Allah, dan kekosongan dalam hidup mereka diisi oleh mabuk, kekerasan, premanisme, sepatu, belanja, dan segala hal.

(Dia melihat reaksi terhadap kematian Putri Diana sebagai indikasi kerinduan ini. "Ketika Putri Diana meninggal, orang menangis di jalanan. Aku bisa melihat sekarang bahwa orang-orang tidak berkabung atas kematian putri. Mereka berkabung atas kematian kebaikan, hilangnya keindahan dalam hidup kita, dan mereka menangis. Karena orang menginginkan kebaikan, mereka mencari kebaikan, dan untuk perdamaian kebahagiaan, dan dan keindahan)

Perenungan apa yang Anda dapat setelah pertemuan itu?
Ketika saya kembali ke Inggris, saya mulai mengenal Islam dan Muslim. Saya mulai mengajar di sebuah sekolah di mana ada banyak Muslim anak-anak, dan saya datang untuk melihat secara langsung bahwa mereka tidak seperti yang diberitakan media massa. Islam tiba-tiba merasuk dalam hidup saya. Di sekolah, ketika saya akan mengajar tentang Nabi Muhammad, saya menemukan air mata di mata saya atau benjolan di tenggorokan saya ketika saya berbicara tentang rukun Islam.

Dari sini kemudian Tawfiq mempelajari Alquran. Ia membaca ayat-ayat Alquran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, ia pun tertegun. ''Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).'' (Al-Maidah ayat 83).

Dari sini, Tawfiq mengaku makin intensif mempelajari Islam. Bahkan, ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, dengan dibomnya dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, dan ketika banyak orang menyematkan pelakunya kalangan Islam. Ia menjadi heran. Kendati masih memeluk Kristen Katholik, ia yakin, Islam tidak seperti itu.

Ia menjadi rajin berkunjung ke Masjid terbesar di London. Di sana berbicara dengan Yusuf Islam tentang Islam. Ia pun kemudian memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. ''Apa yang kamu lakukan saat menjadi Muslim?''

Yusuf Islam menjawab. ''Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, shalat lima kali sehari, dan berpuasa selama bulan Ramadhan,'' ujar Yusuf.

Tawfiq berkata, ''Semua itu sudah pernah saya lakukan.'' Yusuf berkata, ''Lalu apa yang Anda tunggu?''
Saya katakan, ''Saya masih seorang pemeluk Kristiani.''

Pembicaraan terputus ketika akan dilaksanakan Shalat Zhuhur. Setelah shalat selesai dilaksanakan, Tawfiq segera mendatangi Yusuf Islam. Dan, ia menyatakan ingin masuk Islam di hadapan umum. Ia meminta Yusuf Islam mengajarkan caramengucap dua kalimat syahadat. Beberapa menit setelah itu, ia resmi menjadi penganut Islam.

Di berbagai kesempatan, Anda selalu bicara tentang Islam sebagai agama yang toleran dan pentingnya toleransi. Mengapa?
Ini bukan tentang menyerah atau apapun. Kejujuran adalah penting. Saya telah bertemu dengan beberapa tokoh agama yang sangat penting dari seluruh dunia dan kadang-kadang Anda perlu untuk mengatakan kepada mereka sejak awal, "Meskipun saya sepenuhnya Muslim dan Saya menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabi-Nya, saya masih menghormati agama Anda."

Penghormatan terhadap agama lain dan kepercayaan mereka secara fundamentaladalah penting. Orang akan mendengar Anda jika Anda menghormati mereka. Jika Anda keras kepada orang-orang, mereka menjadi defensif dan tidak ingin mendengar apa yang Anda katakan

Monday, May 2, 2011

Sunday, May 1, 2011

#TerimaKasihSahabat

#TerimaKasihSahabat untuk duduk tanpa menghakimi jika aku berbuat kesalahan, dan untuk ada di saat aku jatuh.


#TerimaKasihSahabat karena telah mengajarkanku arti hidup yg sesungguhnya, dengan kejujuran, kesetiaan, dan pengorbanan.


#TerimaKasihSahabat hanya dengan genggaman tanganmu aku bisa melewati hari-hariku meski yg terberat sekalipun.


#TerimaKasihSahabat krn tidak pernah bosan kujadikan 'buku diary', tempatku bercerita segala hal tanpa harus berpura2.


#TerimaKasihSahabat Selalu mengerti, saat aku bilang aku lupa. Tetap tersenyum untukku, meski kamu sedang lelah.


#TerimaKasihSahabat tuk selalu ada di sampingku ketika aku terlalu sakit melihat ke belakang dan terlalu takut menatap ke depan.


#TerimaKasihSahabat telah menjadi org pertama yg berdiri memelukku saat dunia membuatku menangis.


#TerimaKasihSahabat telah menjulurkan tangan, memberi bantuan, setelah aku jatuh sendirian.


#TerimaKasihSahabat meski aku tak sering melihatmu, tapi aku tahu kamu selalu ada untukku.


#TerimaKasihSahabat  tuk selalu tetap bersamaku, meski seluruh dunia tengah berpaling dariku


♥ my besties ♥